.

Senin, 18 April 2011

KONSEP PERBUATAN MANUSIA

KONSEP PERBUATAN MANUSIA
DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI PENDIDIKAN

A. PENDAHULUAN

Allah adalah pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya manusia. Allah bersifat Maha kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Dengan demikian timbullah pertanyaan, dimanakah kedudukan manusia sebagai ciptaan Allah? Apakah bergantung pada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah dalam menentukan perjalanan hidupnya? ataukah Allah memberikan kebebasan dalam memngatur hidupnya? ataukan manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Allah?
Dalam menghadapai pertanyaan-pertanyaan seperti di atas. Para mutakalimin berbeda pendapat, bahkan banyak dipengaruhi oleh filsafat. Oleh karena itu hasil kajiannya bersifat spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset dan eksperimental. Mu’tazilah berprinsip keadilan Tuhan, mereka mengatakan bahwa Tuhan itu adil dan tidak mungkin berbuat zalim dengan memekasakan kehendak kepada hambanya kemudian mengaharuskan hambanya itu menanggung akibat perbuatannya. Mu'tazilah mengecam keras paham yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan. bagaimana mungkin, dalam satu perbuatan akan ada dua daya yang menentukan ?
Dengan faham ini, aliran mu'tazilah mengaku Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya. Meski berpendapat bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan manusia dan tidak pula menentukannya, kalangan Mu'tazilah tidak mengingkari azali Allah yang mengetahui segala apa yang akan terjadi dan diperbuat manusia, pendapat inilah yang membedakannya dari penganut Qodariah murni.
Qadariah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannnya. Dalam istilah Inggris dikenal dengan sebutan free will dan fee act.
Kaum Jabariah berpendapat sebaliknya. Manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam istilah Inggris faham ini disebut fatalism atau predestination.
Sedangkan aliran asy'ariyah mengemukakan dalam paham Asy'ari manusia ditempatkan pada posisi yang lemah. Jadi aliran ini lebih dekat pada paham Jabariyah sedangkan aliran Maturidiyah masih ada perbedaan antara Matudiriyah Samarkand dan Matudiriyah Bakhara mengenai perbuatan manusia. Kolompok pertama lebih dekat dengan paham Mu'tazilah sedangkan kelompok kedua lebih dekat pada paham Asy'ariyah. Mengenai asal usul serta akar kemunculan aliran di atas, ini tidak lepas dari beberapa faktor, diantaranya faktor politik dan faktor geografis.
Dalam ajaran Islam terdapat rukun iman yang ke enam yaitu beriman kepada Qadla dan Qadar. Qadla adalah ilmu atau ketetapan Allah SWT berkenaan dengan seluruh makhluk-Nya, yang telah ditetapkan-Nya pada azal (sesuatu yang tak bermula), yang diantaranya adalah ketetapan Allah SWT berkenaan dengan semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik perbuatan yang Ikhtiyari (dari kehendak manusia sendiri) ataupun tidak. Adapun Qadar adalah terjadinya penciptaan sesuai dengan keputusan yang ditetapkan oleh Allah sebelumnya (Qadla). Dengan demikian, berarti Qadar merupakan implementasi dari Qadla.
Dampak Iman kepada Qadar pada seorang muslim tawakkal kepada Allah, tidak mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan, serta menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi. Seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka ia tidak akan berbuat melainkan dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak akan menetapkan sesuatu kecuali yang terbaik bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.
Aliran yang mengintegrasikan amal sebagai salah satu unsur keimanan, yaitu Mu’tazilah, mereka memandang bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, sedangkan aliran yang lainnya tidak memasukan amal sebagai unsur dari iman. Iman tidak dapat bertambah dan berkurang. Kalaupun iman dapat dikatakan bertambah atau berkurang, hal itu terjadi pada segi sifatnya.
Pembahasan di atas erat kaitannya dengan teologi pendidikan. Teologi merupakan pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan berdasarkan iman, sebagai sikap manusia dihadapan Allah, Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam semesta ini. Iman itu ada dalam diri seseorang antara lain melalui pendidikan atau melalui usaha sendiri, misalnya dengan cermat merenungkan hidupnya di hadapan Sang pemberi hidup itu.
Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan. Iman adalah sikap batin. Iman seseorang terwujud dalam sikap, perilaku dan perbuatannya, terhadap sesamanya dan terhadap lingkungan hidupnya. Sebagai ilmu, teologi merefleksikan hubungan Allah dan manusia. Manusia berteologi karena ingin memahami imannya dengan cara lebih baik, dan ingin mempertanggungjawabkan dihadapan Allah penguasa alam.

B. PERBUATAN MANUSIA DALAM PANDANGAN MUTAKALLIMIN

1. Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu'tazilah memandang bahwa manusia mempunyai daya dan kemampuan yang besar dan bebas. Oleh karena itu, Mu'tazilah menganut paham Qodariyah atau dalam istilah Inggris dikenal dengan sebutan free will dan fee act. Menurut Mu’tazilah kekuasaan Tuhan sebenrnya tidak mutlak lagi, karena kebebasan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Menurut Al-Juba'i dan Abdul Jabar, manusia itu sendirilah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya. Manusia sendirilah yang membuat baik dan buruk. Kepatuhan dan ketaatan seseorang kepada Tuhan adalah atas kehendak dan kemauannya sendiri. Daya kemampaun (al-istitha'ah) untuk mewujudkan kehendak terdapat dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan.
Perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatannya. Mu'tazilah dengan tegas mengatakan bahwa daya juga berasal dari manusia. Daya yang terdapat pada diri manusia adalah tempat terciptanya perbuatan. jadi, Tuhan tidak dilibatkan dalam perbuatan manusia. Aliran Mu'tazilah mengecam keras faham yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan perbuatan. bagaimana mungkin, dalam satu perbuatan akan ada dua daya yang menentukan? Dengan faham ini, aliran mu'tazilah mengaku Tuhan sebagai pencipta alam, sedangkan manusia berpihak sebagai pihak yang berkreasi untuk mengubah bentuknya. Meski berpendapat bahwa Allah tidak menciptakan manusia dan tidak pula menentukannya, kalangan Mu'tazilah tidak mengingkari azali Allah yang mengetahui segala apa yang akan terjadi dan diperbuat manusia, pendapat inilah yang membedakannya dari penganut qodariah murni.
Untuk membela fahamnya, aliran Mu'tazilah mengungkapkan ayat berikut:
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (QS. As-Sajdah: 7)

Yang dimaksud dengan “ahsana” pada ayat di atas, adalah semua pebuatn Tuhan adalah baik.denga demikian, perbuatan manusia bukanlah perbuatan Tuhan, karena perbuatan manusia terdapat perbuatan jahat. Dalil ini di kemukakan untuk mempertegas bahwa manusia akan mendapat balasan atas perbuatannya. Sekirany perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan, balasan dari Tuhan tidak ada artinya.
Disamping argumentasi naqliah di atas, aliran Mu'tazilah mengemukakan argumentasi berikut ini. Kalau Allah menciptakan perbuatan manusia, sedangkan manusia sendiri tidak mempunyai perbuatan, hal ini karena ungkapan perintah dan larangan merupakan kemampuan, kebebasan, dan pilihan. Kalau manusia tidak bebas untuk melakukan perbuatannya. Runtuhlah teori pahala dan hukuman yang muncul dari konsep faham al-wa'd waal-wa'id (janji dan ancaman). Hal ini karma perbuatan itu menjadi tidak dapat di sandarkan kepadanya secara mutlak sehingga bersekoensi pujian atau celaan. Kalau manusia tidak mempunyai kebebasan dan pilihan, pengutusan para nabi tidak ada gunanya sama skali. Bukankah tujuan pengutusan itu adalah dakwa dan dakwa harus di barengi kebebasan pilihan?
Konsikoensi lain dari faham di atas, Mu'tazilah berpendapat bahwa manusia terlibat dalam penentuan ajal karena ajal itu ada dua macam, pertama, adalah al-ajal ath-thabi'i. ajal inilah yang di pandang Mu'tazilah sebagai kekuaaan mutlak Tuhan untuk menentukannya. Adapun jenis yang kedua adalah ajal yang dibikin manusia untuk sendiri misalnya membunuh seseorang, atau bunuh diri di tiang gantungan, atau menum racun. Ajal yang ini dapat dipercepat dan diperlambat.
Mu’tazilah berprinsip keadilan Tuhan, mereka mengatakan bahwa Tuhan itu adil dan tidak mungkin berbuat zalim dengan memekasakan kehendak kepada hambanya kemudian mengaharuskan hambanya itu menangung akibat perbuatannya.

2. Aliran Jabariyah
Sebelum kita memahami dan mengenal lebih dalam mengenai sejarah kemunculan aliran Jabariyah ini, perlu saya paparkan pengertian dari kata Jabariyah itu sendiri, baik secara etimologi maupun sacara terminologi. Kata Jabariyah berasal dari kata Jabara dalam bahasa Arab yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan melakukan sesuatu. Pengertian arti kata secara etimologi diatas telah dipahami bahwa kata jabara merupakan suatu paksaan di dalam melakukan setiap sesuatu. Atau dengan kata lain ada unsur keterpaksaan.
Kata Jabara setelah berubah menjadi Jabariyah (dengan menambah Yaa’ nisbah) mengandung pengertian bahwa suatu kelompok atau suatu aliran (isme). Ditegaskan kembali dalam berbagai referensi yang dikemukakan oleh Asy-Syahratsan bahwa paham Al-Jabar berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah, dengan kata lain, manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam referensi Bahasa Inggris, Jabariyah disebut Fatalism atau Predestination. Yaitu paham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadha dan qadar Allah.
Dapat Kita simpulkan bahwa aliran Jabariyah adalah aliran sekelompok orang yang memahami bahwa segala perbuatan yang mereka lakukan merupakan sebuah unsur keterpaksaan atas kehendak Tuhan dikarenakan telah ditentukan oleh qadha’ dan qadar Tuhan. Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin menurut arah yang diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri.
Mengenai asal usul serta akar kemunculan aliran Jabariyah ini tidak lepas dari beberapa faktor. Antara lain :
1. Faktor Politik
Kemunculan kalam dalam tradisi keilmuan Islam sangat diwarnai oleh interes-interes politik termasuk paham Jabariyah. Pendapat Jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyah (660-750 M). Yakni di masa keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi kekuatan Muawiyah. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya. Di sini ia bermain politik yang licik. Ia ingin memasukkan di dalam pikiran rakyat jelata bahwa pengangkatannya sebagai kepala negara dan memimpin ummat Islam adalah berdasarkan "Qadha dan Qadar/ketentuan dan keputusan Allah semata" dan tidak ada unsur manusia yang terlibat di dalamnya.
Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat munculnya golongan Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga disebut Jahmiyah. Jahm bin Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa manusia terpasung, tidak mempunyai kebebasan apapun, semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata, tidak ada campur tangan manusia. Manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa. Dalam istilah Inggris faham ini disebut fatalism atau predestination.
Paham Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum Jabariyah disebut sebagai kaum Jahmiyah, Namun pendapat lain mengatakan bahwa orang yang pertama mempelopori paham Jabariyah adalah Al-Ja'ad bin Dirham, dia juga disebut sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah. Disamping itu kaum Jahmiyah juga mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan mata kepala di akhirat).
Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya masih tetap dilestarikan. Karena kaum Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman tersebut dan mengadopsi pokok-pokok ajaran kedua kaum tersebut. Selanjutnya ditangan Mu'tazilah paham-paham tersebut segar kembali. Sehingga Imam As-Syafi'i menyebutnya Wasil, Umar, Ghallan al-Dimasyq sebagai tiga serangkai yang seide itulah sebabnya kaum Mu'tazilah dinamakan juga kaum Qadariyah dan Jahmiyah.
Disebut Qadariyah karena mereka mewarisi isi paham mereka tentang penolakan terhadap adanya takdir, dan menyandarkan semua perbuatan manusia kepada diri sendiri tanpa adanya intervensi Allah. Disebut Jahmiyah karena mereka mewarisi dari paham penolakan mereka yang meniadakan sifat-sifat Allah, Al-Qur’an itu Makhluk, dan pengingkatan mereka mengenai kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala di hari kiamat.
Berkaitan dengan hal ini, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sebagai pengikut Mu'tazilah adalah Jahmiyah tetapi tidak semua Jahmiyah adalah Mu'tazilah, karena kaum Mu'tazilah berbeda pendapat dengan kaum Jahmiyah dalam masalah Jabr (hamba berbuat karena terpaksa). Kalau kaum Mu'tazilah menafikanya maka kaum Jahmiyah meyakininya.

2. Faktor Geografi
Para ahli sejarah pemikiran mengkaji melalui pendekatan geokultural bangsa Arab. Kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir sahara memberikan pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Ketergantungan mereka kepada alam sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap alam. Situasi demikian, bangsa Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keingianan mereka sendiri. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Akhirnya, mereka banyak bergantung kepada sikap Fatalisme.
Adapun tokoh-tokoh aliran Jabariyah diantaranya:
1. Ja'd Bin Dirham. Ia adalah seorang hamba dari bani Hakam dan tinggal di Damsyik. Ia dibunuh pancung oleh Gubernur Kufah yaitu khalid bin Abdullah El-Qasri. Pendapat-pendapatnya :
a. Tidak pernah Allah berbicara dengan Musa sebagaimana yang disebutkan oleh Alqur'an surat An-Nisa ayat 164.
b. Bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah dijadikan Allah kesayangan Nya menurut ayat 125 dari surat An-Nisa.
2. Jahm bin Shafwan. Ia bersal dari Persia dan meninggal tahun 128 H dalam suatu peperangan di Marwan dengan Bani Ummayah. Pendapat-pendapatnya:
a. Bahwa keharusan mendapatkan ilmu pengetahuan hanya tercapai dengan akal sebelum pendengaran. Akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat hingga mungkin mencapai soal-soal metafisika dan ba'ts/dihidupkan kembali di akhirat nanti.
b. Hendaklah manusia menggunakan akalnya untuk tujuan tersebut bilamana belum terdapat kesadaran mengenai ketuhanan.
c. Iman itu adalah pengetahuan mengenai kepercayaan belaka. Oleh sebab itu iman itu tidak meliputi tiga oknum keimanan yakni kalbu, lisan dan karya. Maka tidaklah ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya dalam bidang ini, sebab ia adalah semata pengetahuan belaka sedangkan pengetahuan itu tidak berbeda tingkatnya.
d. Tidak memberi sifat bagi Allah yang mana sifat itu mungkin diberikan pula kepada manusia, sebab itu berarti menyerupai Allah dalam sifat-sifat itu. Maka Allah tidak diberi sifat sebagai satu zat atau sesuatu yang hidpu atau alim/mengetahui atau mempunyai keinginan, sebab manusia memiliki sifat-sifat yang demikian itu. Tetapi boleh Allah disifatkan dengan Qadir/kuasa, Pencipta, Pelaku, Menghidupkan, Mematikan sebab sifat-sifat itu hanya tertentu untuk Allah semata dan tidak dapat dimiliki oleh manusia.
Adapun Diantara ciri-ciri ajaran Jabariyah adalah :
1. Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat, buruk atau baik semata Allah semata yang menentukannya.
2. Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
3. Ilmu Allah bersifat Huduts (baru)
4. Iman cukup dalam hati saja tanpa harus dilafadhkan.
5. Bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya.
6. Bahwa surga dan neraka tidak kekal, dan akan hancur dan musnah bersama penghuninya, karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata.
7. Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
8. Bahwa Alqur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah
Kelompok Jabariyah adalah orang-orang yang melampaui batas dalam menetapkan takdir hingga mereka mengesampingkan sama sekali kekuasaan manusia dan mengingkari bahwa manusia bisa berbuat sesuatu dan melakukan suatu sebab (usaha). Apa yang ditakdirkan kepada mereka pasti akan terjadi. Mereka berpendapat bahwa manusia terpaksa melakukan segala perbuatan mereka dan manusia tidak mempunyai kekuasaan yang berpengaruh kepada perbuatan, bahkan manusia seperti bulu yang ditiup angin. Maka dari itu mereka tidak berbuat apa-apa karena berhujjah kepada takdir.
Jika mereka mengerjakan suatu amalan yang bertentangan dengan syariat, mereka merasa tidak bertanggung jawab atasnya dan mereka berhujjah bahwa takdir telah terjadi. Akidah yang rusak semacam ini membawa dampak pada penolakan terhadap kemampuan manusia untuk mengadakan perbaikan. Dan penyerahan total kepada syahwat dan hawa nafsunya serta terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan karena menganggap bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh Allah atas mereka. Maka mereka menyenanginya dan rela terhadapnya. Karena yakin bahwa segala yang telah ditakdirkan pada manusia akan menimpanya, maka tidak perlu seseorang untuk melakukan usaha karena hal itu tidak mengubah takdir.
Keyakinan semacam ini telah menyebabkan mereka meninggalkan amal shalih dan melakukan usaha yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah, seperti shalat, puasa dan berdoa. Semua itu menurut keyakinan mereka tidak ada gunanya karena segala apa yang ditakdirkan Allah akan terjadi sehingga doa dan usaha tidak berguna baginya. Lalu mereka meninggalkan amar ma'ruf dan tidak memperhatikan penegakan hukum. Karena kejahatan merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Sehingga mereka menerima begitu saja kedzaliman orang-orang dzalim dan kerusakan yang dilakukan oleh perusak, karena apa yang dilakukan mereka telah ditakdirkan dan dikehendaki oleh Allah.
3. Aliran Asy'ariyah
Dalam faham Asy'ari manusia di tempatkan pada posisi yang lemah. Ia di ibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karana itu, aliran ini lebih dekat dengan paham jabariah dari pada dengan faham Mu'tazilah untuk menjeleskan dasr pijakannya, asy'ari,.pendiri aliran asy'ariyah, memakai teori al-kasb (acquisition, perolehan). Teori Al-Kasb Asy'ari dapat di jelaskan sebagai berikut. Segala sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang di ciptakan, sehingga menjadi perolehan bagi muktasib yang memproleh kasab untuk melakukan perbuatan. Sebagai konsekoensi dari teori kasb ini, manusia kehilangan keaktifan, sehingga manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya.
Argumen yang diajarkan oleh Al-Asy’ari untuk membela keyakinannya adalah firman Allah:
96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (QS. Ash-Shaffat: 96)

Wama ta'malun pada ayat di atas diartikan Al-Asy'ari dengan apa yang kamu perbuat dan bukan apa yang kamu perbuat. dengan demikian, ayat ini mengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatanmu dengan kata lain, dalam faham Asy'ari, yang mewujudkan kasb atau perbuatann manusia sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Pada prinsipnya aliran Asy'ariyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya. Allah menciptakan perbuatan untuk manusia dan menciptakan pula pada diri manusia, daya untuk melahirkan perbuatan tersebut. Jadi, perbuatan di sini adalah ciptaan Allah dan merupakan kasb (perolehan) bagi manusia. Dengan demikian kasb mempunyai pengertian penyertaan perbuatan dengan daya manusia yang baru. Ini berimplikasi bahwa perbuatan manusia dibarengi oleh daya kehendaknya, dan bukan atas daya kehendaknya.

4. Aliran Maturidiyah
Ada perbedaan antara Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah bukhara mengenai perbuatan manusia. Kelompok pertama lebih dekat dengan faham Mu'tazilah, sedangkan kelompok kedua lebih dekat dengan faham Asy'ariyah. Kehendak dan daya berbuat pada diri manusia, menurut Maturidiyah Semarkand, adalah kehendak dan daya manusia dalam kata arti sebenarnya, dan bukan dari kiasan. Perbedaannya dengan Mu'tazilah adalah bahwa daya untuk berbuat tidak diciptakan sebelumnya, tetapi bersama-sama dengan perbuatannya. Daya yang demikian porsinya lebih kecil dari pada daya yang terdapat dalam faham Mu'tazilah. Oleh karena itu, manusia dalam faham Al-Maturidi, tidaklah sebebas manusia dalam Mu'tazilah.
Maturidiyah Bakhara dalam banyak hal sependapat dengan maturiyah samarkand. Hanya saja golongan ini memberikan tambahan dalam masalah daya. Manusia tidak mempunyai daya untuk melakukan perbuatan, hanya Tuhan lah yang dapat menciptakan, dan manusia hanya dapat melakukan perbuatan yang telah diciptakan Tuhan baginya.

a. Asal-Usul Maturidiyah
Aliran Maturidiyah lahir di Samarkand, pertengahan kedua dari abad IX M. pendurinya adalah Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Almaturidi. Riwayatnya tidak banyak diketahui. Ia sebagai pengikut Abu Hanifah, sehingga paham teologinya memiliki banyak persamaan dengan paham-paham yang dipegang Abu Hanifah. Sistem pemikiran aliran Maturidiyah, termasuk golongan teologi Ahli sunah.
Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya banyak menggunakan rasio. Hal ini mungkin banyak dipengaruhi oleh Abu Hanifa karena Al-maturidi sebagai pengikat Abu Hanifah. Dan timbulnya aliran ini sebagai reaksi terhadap Mu’tazilah.

b. Pokok-Pokok Ajaran Maturidiyah, adalah:
Kewajiban mengetahui Tuhan. Akal semata-mata sanggup mengetahui Tuhan. Namun itu tidak sanggup dengan sendirinya hukum-hukum taklifi (perintah-perintah Allah SWT), kebaikan dan kerburukan dapat diketahui dengan akal.
Perbuatan Tuhan mengandung kebijaksanaan (hikmah). Baik dalam cipta-ciptaannya maupun perintah dan larang-larangannya, perbuatan manusia bukanlah merupakan paksaan dari Allah, karena itu tidak bisa dikatakan wajib, karena kewajiban itu mengandung suatu perlawanan dengan iradah-nya

c. Golongan-Golongan Didalam Maturidiyah
Ada dua golongan didalam Maturidiyah yaitu ;
1. Golongan Samarkand
Yang menjadi golongan ini dalah pengikut Al-Maturidi sendiri, golongan ini cenderung ke arah paham Mu’tazilah, sebagaimana pendapatnya soal sifat-sifat Tuhan, Maturidi dan Asy’ary terdapat kesamaan pandangan, menurut Maturidi, Tuhan mempunyai sifat-sifat, Tuhan mengetahui bukan dengan Zat-Nya, melainkan dengan pengetahuannya. Begitu juga Tuhan berkuasa dengan Zat-Nya. Mengetahui perbuatan-perbuatan manusia. Maturidi sependapat dengan golongan Mu’tazilah, bahwa manusialah sebenarnya mewujudkan perbuatan-perbutannya. Apabila ditinjau dari sini, Maturidi berpaham Qadariyah. Maturidi menolak paham-paham Mu’tazilah, yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.
Maturidi sepaham dengan Mu’tazilah dalam soal al-waid wa al-waid. Bahwa janji dan ancaman Tuhan, kelak pasti terjadi. Demikian pula masalah Antropomorphisme. Dimana Maturidi berpendapat bahwa tangan wajah Tuhan, dan sebagainya seperti pengambaran Al-Qur’an. Mesti diberi arti kiasan (majazi). Dalam hal ini. Maturidi bertolak belakang dengan pendapat Asy’ary yang menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan mempunyai bentuk jasmani tak dapat diberi interpretasi (ditakwilkan)

2. Golongan Bukhara
Golongan Bukhara ini dipimpin oleh Abu Al-Yusr Muhammad Al-Bazdawi. Dia merupakan pengikut Maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid Maturidi. Dari orang tuanya, Al-Bazdawi dapat menerima ajaran Maturidi.
Dengan demikian yang di maksud golongan Bukhara adalah pengikut-pengikut Al-Bazdawi di dalam aliran Al-Maturidiyah, yang mempunyai pendapat lebih dekat kepada pendapat-pendapat Al-Asy’ary. Namun walaupun sebagai aliran Maturidiyah. Al-Bazdawi tidak selaanya sepaham dengan maturidi. Ajaran-ajaran teologinya banyak dianut oleh sebagin umat Islam yang bermazab Hanafi. Dan pemikiran-pemikiran Maturidiyah sampai sekarang masih hidup dan berkembang dikalangan umat Islam. Ilmu kalam banyak dipengaruhi oleh filsafat. Oleh karena itu hasil kajiannya bersifat spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiris, riset dan eksperimental.

C. HAKEKAT QADLA DAN QADAR
Persoalan qadla dan qadar tidak habis-habisnya dibicarakan orang hingga sekarang dan tidak ada kesepakatan pendapat. Perbedaan pendapat dalam hal tersebut karena adanya beberapa ayat al-Qur’an yang lahirnya kelihatan saling berlawanan. Para mutakallimin berusaha keras untuk mempertahankan dan menyebarluaskan pendapat-pendapatnya dengan menggunakan berbagai penafsiran yang cenderung menyimpangkan makna firman Allah. Untuk lebih memahami hal itu penulis mencoba menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan qadla dan qadar.
1. Definisi Qadla dan Qadar
Qadla adalah ilmu atau ketetapan Allah SWT berkenaan dengan seluruh makhluk-Nya, yang telah ditetapkan-Nya pada azal (sesuatu yang tak bermula), yang diantaranya adalah ketetapan Allah SWT berkenaan dengan semua perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik perbuatan yang Ikhtiyari (dari kehendak manusia sendiri) ataupun tidak. Adapun Qadar adalah terjadinya penciptaan sesuai dengan keputusan yang ditetapkan oleh Allah sebelumnya (Qadla). Dengan demikian, berarti Qadar merupakan implementasi dari Qadla.
2. Makna Iman kepada Taqdir
Al-Qadar adalah takdir Allah untuk seluruh makhluk yang ada sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Iman kepada takdir mencakup empat hal:
a. Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun terperinci, azali dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan para hamba-Nya.
b. Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di “Lauh Mahfudz”.
Tentang kedua hal tersebut Allah berfirman:
Artinya: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj: 70).
Abdullah bin Umar Berkata, “Aku pernah mendengar Rasululah bersabda: “Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim).
c. Mengimani bahwa seluruh yang terjadi, tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah Baik yang berkaitan dengan perbuatan Allah sendiri maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk-makhlukNya.
Allah berfirman tentang hal yang berkaitan dengan perbuatan-Nya:
Artinya: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS. Al Qashash: 68).
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 6)
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada Perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu. Maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS. An Nisa : 90).
Artinya: “:Dan Demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. .”(QS. Al An’am:137).
d. Mengimani bahwa seluruh yang ada, wujud, sifat dan geraknya diciptakan oleh Allah.
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. “ (QS. Al-Furqan: 2)
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As-Shaffat: 96).
Setiap muslim wajib mengimani takdir yang baik dan yang buruk, yangmanis dan yang pahit. Iman kepada takdir sebagaimana telah Kami jelaskan di atas tidak menafikan bahwa manusia mempunyai kehendak dan kemampuan dalam barbagai perbuatan yang sifatnya ikhtiari. Syara’ dan kenyataan (realita) membenarkan pernyataan di atas.
a. Secara syara’, Allah berfirman tentang kehendak manusia:
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Itulah hari yang pasti terjadi. Maka Barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (QS. AN- Naba: 39)
Allah SWT berfirman:
Artinya: “ Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 223)

Allah SWT juga berfirman bahwa manusia memiliki qudrat (kemampuan):
Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)
Allah SWT berfirman:
Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al Baqarah: 286).

b. Secara kenyataan
Secara nyata manusia mengetahui bahwa dirinya memiliki iradat (kehendak) dan qudrat (kemampuan), dia mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakannya tergantung kepada dua hal tersebut. Dia juga dapat membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya (seperti; berjalan), dan sesuatu yang terjadi di luar kehendaknya (seperti; gemetar). Dan kehendak serta kemampuan seorang makhluk tunduk di bawah iradat (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah , seperti dalam sebuah firman-Nya:
Artinya: “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS. At-Takwir: 28-29).
Karena alam semesta ini seluruhnya milik Allah, maka tidak ada barang sedikitpun yang menjadi milik-Nya terjadi di luar ilmu (pengetahuan) serta iradat (kehendak)-Nya. Iman kepada takdir ini tidak dapat dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat. Kalau itu dijadikan alasan, maka jelas salah ditinjau dari beberapa segi:
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Orang-orang yang menyekutukan Tuhan mengatakan , “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun. Demikian juga orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya pada Kami? Kamu tidak mengetahui kecuali prasangka belaka dan kamu tidak lain hanya menyangka.” (QS. Al An’am: 148).
Itulah jawaban Allah bagi orang-orang yang berdalih dengan qadar-Nya untuk melakukan kemaksiatan. Kalau alasan mereka dengan takdir dapat diterima Allah tentu Dia tidak akan menjatuhkan siksa kepada mereka.
Allah SWT berfirman:
Artinya: “(Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 165)
Andaikan takdir dapat dijadikan alasan untuk orang-orang yang berbuat dosa, niscaya Allah tidak menafikan alasan tersebut dengan diutusnya para Rasul, karena terjadinya perbuatan dosa setelah diutusnya para Rasul, juga terjadi sesuai dengan takdir Allah .
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi bersabda:“Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) tempatnya di surga atau di neraka. Ada seorang sahabat bertanya,“Mengapa kita tidak tawakal (pasrah) saja, wahai Rasulullah?” beliau menjawab , “tidak, beramal lah karena masing-masing akan dimudahkan.” Lalu beliau membaca surat Al lail ayat 4-7 : “Sesungguhnya usaha kamu memang berbedabeda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami menuntunnya kepada jalan yang benar.” (QS. Al Lail: 4-7)
Jadi, Nabi memerintahkan untuk beramal dan melarang pasrah kepada takdir. Allah memerintah, serta melarang hamba-hamba-Nya, namun tidak menuntut mereka melakukan sesuatu di atas kemampuan mereka. Kalau benar anggapan bahwa manusia tidak memiliki qudrat (kemampuan), iradat (kehendak), ia terpaksa untuk berbuat sesuatu, artinya ia disuruh mengerjakan sesuatu di luar kesanggupannya, ini tentu bertentangan dengan ayat di atas. Oleh karena itu, bila maksiat dilakukan karena kebodohan atau karena lupa, atau karena dipaksa, maka pelakunya tidak berdosa. Mereka dimaafkan Allah.
Takdir Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak dapat diketahui sebelum terjadi, kehendak seseorang untuk mengerjakan sesuatu lebih dahulu daripada perbuatannya. Jadi, kehendak seseorang untuk mengerjakan sesuatu itu tidak berdasarkan pada pengetahuannya terhadap takdir Allah. Dengan ini gagal alasan melakukan dosa dengan takdir karena tidak ada alasan bagi seseorang terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya.
Kita melihat orang yang ingin mendapatkan keduniaan secara layak, dia akan menempuh jalan yang dapat mewujudkan keinginannya, dan tidak mau menempuh jalan lain, kenapa dia tidak menempuh jalan lain, lalu berdalih dengan takdir? Tetapi mengapa dalam urusan agama, ia memilih jalan yang salah dan berdalih dengan takdir? Padahal dua perkara tersebut sama halnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut:
Kalau di depan seseorang ada dua jalan. Pertama menuju ke sebuah negeri yang kacau, pembunuhan, perampokan, pelanggaran kehormatan, ketakutan, dan kelaparan terjadi. Yang kedua menuju ke sebuah negeri yang teratur, keamanan yang terkendali, kesejahteraan yang melimpah ruah, jiwa, kehormatan, dan harta benda dihargai. Jalan mana yang akan ia tempuh? Ia pasti akan menempuh jalan yang kedua yaitu; menuju ke sebuah negeri yang teratur serta aman. Tidak mungkin orang yang berakal menempuh jalan yang menuju ke sebuah negeri yang kacau serta menakutkan dengan alasan takdir. Mengapa dalam hal akhirat ia menempuh jalan yang menuju ke neraka bukan jalan yang menuju surga, lalu berdalih takdir?
Contoh lain adalah; seorang yang sakit disuruh meminum obat, lalu ia meminumnya sedangkan dia tidak menyukai obat tersebut. Dan dilarang memakan makanan tertentu, lalu ia meninggalkannya, sementara dia sangat menyukainya. Semua itu dikarenakan dia sedang menjalani pengobatan untuk sembuh. Orang ini tidak mungkin enggan minum obat atau melanggar pantangan dengan memakan makanan yang dilarang dengan alasan pasrah kepada takdir. Maka Bagaimana seseorang meninggalkan perintah Allah dan Rasul-Nya , atau melakukan larangan Allah dan Rasul-Nya dengan alasan takdir?
Orang yang meninggalkan kewajiban serta berbuat kemaksiatan dengan alasan takdir, seandainya dianiaya oleh seseorang, dirampas hartanya dan dilanggar kehormatannya, lalu orang yang menganiayanya seraya berkata,”Anda jangan menyalahkan saya, karena kelaliman saya ini adalah takdir Allah,” alasan tersebut tentu tidak akan dia terima. Maka bagaimana seseorang tidak mau menerima alasan orang lain dengan takdir di saat dia dianiaya oleh orang lain, sedangkan ia sendiri beralasan dengan takdir terhadap kelalimannya pada hak Allah ?
Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin khattab menerima laporan tentang seorang pencuri yang berhak dipotong tangannya. Beliau memerintahkan agar hukuman dilaksanakan. Maka si pencuri berkata,”tunggu dulu, Amirul Mukminin, aku mencuri karena takdir Allah. Umar pun menjawab,”demikian juga kami memotong tanganmu juga karena takdir Allah .



D. IMPLIKASI IMAN KEPADA TAQDIR ALLAH TERHADAP PENDIDIKAN
Dampak Iman kepada qadar pada seorang muslim diantaranya:
a. Tawakkal kepada Allah disaat mengerjakan sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah.
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT. Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama. Diantara definisi mereka adalah:
1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.
Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan.
2. Ibnu Qoyim al-Jauzi
Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.
Sebagian ulama lainnya memberikan komentar beragam mengenai pernak pernik takawal, diantaranya adalah ungkapan : Jika dikatakan bahwa Dinul Islam secara umum meliputi dua aspek; yaitu al-isti’anah (meminta pertolongan Allah) dan al-inabah (taubat kepada Allah), maka tawakal merupakan setengah dari komponen Dinul Islam. Karena tawakal merupakan repleksi dari al-isti’anah (meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT) : Seseorang yang hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah, menyandarkan dirinya hanya kepada-Nya, maka pada hakekatnya ia bertawakal kepada Allah.
Sahl bin Abdillah al-Tasattiri juga mengemukakan bahwa ‘ilmu merupakan jalan menuju penghambaan kepada Allah. Penghambaan merupakan jalan menuju kewara’an (sifat menjauhkan diri dari segala kemaksiatan). Kewaraan merupakan jalan mmenuju pada kezuhudan. Dan kezuhudan merupakan jalan menuju pada ketawakalan. Tawakal merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam Islam. Oleh karena itulah, kita dapat melihat, banyak sekali ayat-ayat ataupun hadits-hadits yang memiliki muatan mengenai tawakal kepada Allah SWT. Demikian juga para salafus shaleh, juga sangat memperhatikan masalah ini. Sehingga mereka memiliki ungkapan-ungkapan khusus mengenai tawakal.
1. Derajat Tawakkal
Tawakal merupakan gabungan berbagai unsur yang menjadi satu, dimana tawakal tidak dapat terealisasikan tanpa adanya unsur-unsur tersebut. Unsur-unsur ini juga merupakan derajat dari tawakal itu sendiri:
1. (معرفة بالرب وصفاته) Derajat pertama dari tawakal adalah : Ma’rifat kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya minimal meliputi tentang kekuasaan-Nya keagungan-Nya, keluasan ilmu-Nya, keluasan kekayaan-Nya, bahwa segala urusan akan kembali pada-Nya, dan segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya, dsb.
2. (إثبات في الأسباب والمسببات) Derajat tawakal yang kedua adalah : Memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Karena siapa yang menafikan keharusan adanya usaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. Seperti seseorang yang ingin pergi haji, kemudian dia hanya duduk di rumahnya, maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah sampai ke Mekah. Namun hendaknya ia memulai dengan menabung, kemudian pergi kesana denan kendaraan yang dapat menyampaikannya ke tujuannya tersebut.
3. (رسوخ القلب في مقام توحيد التوكل) Derajat Tawakal yang ketiga adalah : Adanya ketetapan hati dalam mentauhidkan (mengesakan) Dzat yang ditawakali, yaitu Allah SWT. Karena tawakal memang harus disertai dengan keyakinan akan ketauhidan Allah. Jika hati memiliki ikatan kesyirikan-kesyirikan dengan sesuatu selain Allah, maka batallah ketawakalannya.
4. (اعتماد القلب على الله، واستناده إليه، وسكونه إليه) Derajat tawakal yang keempat adalah : Menyandarkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah SWT, dan menjadikan situasi bahwa hati yang tenang hanyalah ketika mengingatkan diri kepada-Nya. Hal ini seperti kondisi seorang bayi, yang hanya bisa tenang dan tentram bila berada di susuan ibunya. Demikian juga seorang hamba yang bertawakal, dia hanya akan bisa tenang dan tentram jika berada di ‘susuan’ Allah SWT.
5. (حسن الظن بالله عز وجل) Derajat tawakal yang kelimana adalah : Husnudzan (baca ; berbaik sangka) terhadap Allah SWT. Karena tidak mungkin seseorang bertawakal terhadap sesuatu yang dia bersu’udzan kepadanya. Tawakal hanya dapat dilakukan terhadap sesuatu yang dihusndzani dan yang diharapkannya.
6. (استسلام القلب له) Derajat Tawakal yang keeman adalah : Memasrahkan jiwa sepenuhya hanya kepada Allah SWT. Karena orang yang bertawakal harus sepenuh hatinya menyerahkan segala sesuatu terhadap yang ditawakali. Tawakal tidak akan mungkin terjadi, jika tidak dengan sepenuh hati memasrahkan hatinya kepada Allah.
7. (التفويض) Derajat tawakal yang ketujuh yaitu : Menyerahkan, mewakilkan, mengharapkan, dan memasrahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT. Dan hal inilah yang merupakan hakekat dari tawakal. Allah SWT berfirman:
وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Artinya: Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya".(QS. Al-Mu’min : 44)
Seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka ia tidak akan berbuat melainkan dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak akan menetapkan sesuatu kecuali yang terbaik bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.
Orang yang mempunyai akal dan perasaan (panca Indra) yang sehat, mengakui dan menyaksikan bahwa dirinya sendiri adalah maujud (ada). Ia mempunyai kemauan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dengan ikhtiar dengan pertimbangan akal dan ditentukan olerh keinginannya sendiri.
b. Agar seseorang tidak mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan ni’mat dari Allah yang telah ditakdirkan-Nya dengan memudahkan sebab-sebab keberhasilan. Sedangkan sifat mengagumi diri akan dapat melupakan syukur kepada ni’mat Allah.
c. Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi.
E. KESIMPULAN
Allah adalah pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya manusia. Allah bersifat Maha kuasa dan mempunyai kehendak yang bersifat mutlak. Dalam ajaran Islam terdapat rukun iman yang ke enam yaitu beriman kepada Qadla dan Qadar. Dampak Iman kepada Qadar pada seorang muslim tawakkal kepada Allah, tidak mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan, serta menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi. Seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka ia tidak akan berbuat melainkan dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak akan menetapkan sesuatu kecuali yang terbaik bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.
Mengenai asal usul serta akar kemunculan aliran-aliran tidak lepas dari beberapa factor diantaranya faktor Politik dan aktor Geografi. Para ulama Ahlu Sunnah wal jamaah telah menyangkal anggapan orang-orang sesat itu dengan pembatalan dan penolakan terhadap pendapat mereka. Menjelaskan bahwa keimanan kepada takdir tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa manusia mempunyai keinginan dan pilihan dalam perbuatannya serta kemampuannya untuk melaksanakannya. Hal ini ditunjukkan dengan dalil-dalil baik syariat maupun akal. Takdir Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak dapat diketahui sebelum terjadi, kehendak seseorang untuk mengerjakan sesuatu lebih dahulu daripada perbuatannya. Jadi, kehendak seseorang untuk mengerjakan sesuatu itu tidak berdasarkan pada pengetahuannya terhadap takdir Allah. Dengan ini gagal alasan melakukan dosa dengan takdir karena tidak ada alasan bagi seseorang terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya.
Implikasi beriman kepada Allah terhadap pendidikan adalah pertama, tawakkal kepada Allah disaat mengerjakan sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah. kedua, agar seseorang tidak mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan ni’mat dari Allah yang telah ditakdirkan-Nya dengan memudahkan sebab-sebab keberhasilan. Sedangkan sifat mengagumi diri akan dapat melupakan syukur kepada ni’mat Allah. Ketiga, menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang terjadi, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau sesuatu yang tidak disukai menimpanya. Karena dia tahu bahwa hal itu terjadi dengan takdir Allah, Pemilik langit dan bumi dan bahwa hal itu pasti akan terjadi.
DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Muhammad, Risalah At-Tauhid, Terj. Firdaus, A.N. Risalah Tauhid, Bulan Bintang, Jakarta. 1992
Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337
Anwar, Rosihon, dkk, Ilmu Kalam, Pustaka setia, Bandung, 2001
Asy-Syahrastani, Al-Minal wa An-Nihal, Dar Al-Fikr,tt, h. 47.
Hanafi, Ahmad, Theologi Islam, Muhammad Husein Adz-Dzahabi, Penyimpangan-penyimpangan dalam Penafsiran Al-Qur’an, Rajawali Press, Jakarta, 1978.
Harun Nasution, Teologi Islam aliran-aliran sejarah analisa perbandingan, Jakrata: UI-Press, 1978.
http://www.eramuslim.com/syariah/tafsir-hadits/makna-tawakal.htm
http://hadirukiyah.blogspot.com/2010/07/perbuatan-manusia-menurut-aliran.html,
http://www.eramuslim.com/syariah/tafsir-hadits/makna-tawakal.htm
Romas, Chumaidi Syarif, Wacana Teologi Islam Kontemporer, PT Tiara Wacana, Yogyakarta, 2000.
Saefuddin, Endang, Ilmu Filsafat dan Agama, PT. Bina Ilmu, Surabaya: 1990
Yusuf, Yunan, Alam Pikiran Islam: Pemikiran Kalam, Perkasa, Jakarta 1990.
Yasin, Muhammad Nuaim, Iman, Rukun, hakikat yang Membatalkannya, Syamil cipta Media, Bandung 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar